Tampaknya akan biasa-biasa saja setibanya aku disana –mengambil makanan atau minuman yang aku inginkan kemudian membayar dan pulang. Sekilas aku berpikir seperti itu, entah mengapa ketika jarak aku dan pintu masuk ke dalam pintu mini market itu tinggal 1 meter lagi aku merasakan yang berbeda, aku melihat tempat ini lebih ramai. Aku masuk dan benar saja, ada sekitar 6 anak kecil yang ingin membeli snack dan tampaknya sedang berdebat tentang pembagian dalam pembayaran nanti. Mereka membentuk seperti sebuah lingkaran kecil dan saling berdebat antara satu anak dengan yang lainnya. Aku tidak merasa terganggu atas kehadiran mereka di dalam mini market itu, justru aku tertawa melihat kejadian itu, sungguh kejadian itu membuatku tertawa dan sedikit terhibur. Mereka tak henti-hentinya memperdebatkan berapa uang yang harus mereka keluarkan masing-masing. Diantara ke enam anak itu ada satu yang dominan berbicara, dan dia adalah seorang perempuan. Entah bawaan dari ibunya atau bawaan dari bapaknya sebagai pemimpin,memimpin sebuah kelompok anak kecil yang ingin membeli snack. Aku terus melihat ke arah mereka sembari membuka lemari pendingin untuk mengambil minuman yang aku inginkan. Dan aku berjalan ke arah kasir. Sesampainya di kasir mereka masih berdebat, aku tetap memperhatikan mereka, tak henti-hentinya aku tertawa, tidak menertawakan sebuah kebodohan anak kecil, tetapi menertawakan kepolosan anak kecil yang memperdebatkan uang, dan aku sendiri membayangkan diriku saat masa-masa itu. Jujur dari dalam hati yang paling dalam, aku terhibur sekali melihat pemandangan itu. Sekali lagi aku perlu tekankan, membuat aku terhibur sehingga membuat aku tertawa.
Tertawa memang tidak dilanggar, dan sangat baik untuk kita. Tidak mungkin sangat baik apabila terdapat sebuah kasus di mana beberapa studi menunjukkan bahwa beberapa pasien yang telah memasuki masa-masa kronis mendapat kondisi tubuhnya membaik setelah di stimulasi dengan hal-hal yang lucu. Itulah sebuah studi yang telah dipelajari oleh Dr. Beth Ann Ditkoff dan dipaparkan dalam bukunya “Why Don’t Your Eyelashes Grow?: Curious Questions Kids Ask About the Human Body.”. Dan pintu gerbang sebuah humor adalah dopamine, yaitu sebuah zat kimia yang ada di dalam otak yang bertanggung jawab untuk memicu otak untuk dapat mencerna suatu humor. Dopamine merupakan salah satu jenis zat kimia dalam otak yang masuk dalam jenis neurotransmitter yang dimana berfungsi sebagai zat yang menyampaikan pesan dari satu syaraf ke syaraf lainnya. Tidak hanya dopamine yang terletak dalam “satu atap neurotransmitter”, masih ada asetil kolin, dopamine itu sendiri, serotonin, epinefrin, dan norepinefrin yang memiliki fungsi masing-masing.
Sedangkan neurotransmitter bisa dikatakan sebagai “alat komunikasi” neuron dimana bisa dijelaskan neuron merupakan salah satu pembentuk sel otak. Dimana tugas neuron adalah membawa informasi dalam bentuk pulsa listrik yang dikenal sebagai potensial aksi. Dan neuron berkomunikasi dengan neuron-neuron yang lain dengan membawa berbagai macam bahan kimia yang disebut neurotransmitter tadi. Dan neurotransmitter yang berperan sebagai “alat komunikasi” dari neuron tadi dikirimkan menuju celah sinapsis. Sinapsis itu sendiri adalah titik temu antara akson salah satu neuron dengan neuron lainnya. Akson, adalah jalur transmisi utama sistem saraf dan mereka membantu membuat saraf. Saraf adalah serat-serat yang menghubungakan organ-organ tubuh dengan sistem saraf pusat ( otak dan sum-sum tulang belakang ) dan antar bagian sistem saraf dengan lainnya.
Sedikit perjalanan yang cukup panjang, dan tidak dapat dijelaskan satu per satu disini, yang sedikit membuat kita berpikir bagaimana lahirnya tertawa.Jadi,sudah sangat jelas, tertawa adalah hal yang penting dan baik. Dengan tertawa, stress akan hilang, dan kita akan semakin ringan membawa raga ini berjalan menelusuri jalan raya kehidupan. Satu lagi, bukan berarti diperbolehkan tertawa sembarangan, bisa-bisa anda akan tertawa di dalam kamar rumah sakit jiwa. Tertawa itu menyenangkan.
Dwi Nur Arry Andhika Muchtar




























