Hari sabtu, hari di mana mayoritas penduduk jakarta “beristirahat” dan melepas beban, kepenatan dan kejenuhan setelah 5 hari bergelut di dalam lingkaran perjuangan dan dipenuhi keringat pengorbanan. Tempat-tempat untuk melepaskan kejenuhan tersebut banyak sekali alternatifnya. Ada yang pergi ke mall, cafe, rumah kerabat, saudara, dan rumah tambatan hatinya sekalipun. Semua kembali menuju pribadinya masing-masing. Seperti makanan atau minuman, setiap orang mempunyai seleranya masing-masing.
Sebuah malam yang gemerlap di daerah Kelapa Gading yang terletak di bilangan jakarta utara. Sentra kelapa gading. Bundaran yang penuh dengan mobil dan motor. Beberapa securitytiger atau megapro- menuyusuri perputaran itu dengan tenang dan pelan-pelan. Ada satu alasan pasti mengapa aku tidak mau menarik gas dengan kencang. Aku berpikir, sudah terlalu banyak motor yang menarik gasnya dengan kencang dan tidak mau tahu apa yang ada di sekelilingnya, termasuk peraturan lalu lintas. Memang hak mereka masing-masing untuk menarik gas mereka sekencang-kencangnya, lalu apa yang salah dari mereka? Apakah mereka memiliki kesalahan dengan menarik gas sekencang-kencangnya? mengatur perputaran kendaraan bermesin itu. Macat dan penuh polusi. Suara klakson tak mau kalah dengan macatnya perputaran itu. Aku dengan kendaraan beroda dua ini –tentunya bukan motor bebek, motor sejenis
Pengendara motor BAJINGAN! Seolah memberhentikan motornya atau memperlambat motornya dapat membuat nyawanya melayang. Selalu menarik gasnya dengan lencang –mayoritas-, menyalip kendaraan roda empat dengan semena-mena, maju sebelum lampu hijau menyala –apa tidak ada peraturan untuk kendaraan beroda dua?- dan TIDAK AKAN PERNAH MAU DISALAHKAN, walaupun terkadang mereka yang salah terhadap sebuah kesalahan yang melibatkan motor dan mobil atau motor dengan motor sekalipun. Ada sebuah kasus yang membuat akal dan hati sehat kita bertanya-tanya, kurang lebih kasusnya seperti ini.
Sebuah lampu merah yang terletak di sebuah perempatan besar. Terdapat empat lampu merah. Saling berhadap-hadapan seperti membentuk lambang palang merah apabila di tarik garis luru. Aku dengan kendaraan tuaku berhenti di salah satu lampu merah. Aku berhenti di belakang garis stop, tiba-tiba dari belakang aku mendengar suara klakson. Klakson pertama tidak membuat kepalaku menengok ke belakang, klakson kedua sama seperti itu. Mulai saat klakson ketiga, aku mulai memutar kepalaku 180 derajat. Aku menatap wajahnya dengan wajahku yang sedikit galak. Aku tidak suka, ini belum saatnya aku, dia, dan beberapa kendaraan lain untuk jalan. Tidak banyak berpikir, aku memiringkan kendaraanku dengan maksud untuk memberinya jalan. Dia maju kedepanku, dan dia berhenti persis di zebra cross. Apa yang dia pikirkan? Hanya berhenti di zebra cross saja lalu apa bedanya dengan pengendara yang lainnya? Tidak mau bersabar sedikitkah mereka?
Suatu hari saudaraku sedang membawa kendaraan roda empatnya. Ingin membelokkan kendaraannya itu ke arah kiri. Tiba-tiba dari arah kiri belakang beberapa motor melaju dengan cukup kencang dan mereka tidak belok, tetapi lurus saja, memotong jalur dari saudaraku itu. padahal, saudaraku itu telah memberikan tanda bahwa dirinya itu akan belok kiri dengan menyalakan lamu sen. Apa yang dipikirkan orang-orang itu? tidak ada otak dan pikirankah mereka? Tidak terlintaskah dalam pikiran mereka tentang keselamatannya?
Akhirnya aku telah tiba di tempat parkir. Melepas kepenatan untuk sementara –tentunya dari kemacetan yang menjemukkan- dengan meregangkan beberapa bagian tubuhku. Aku kemudian naik ke lantai dua yang akhirnya di depanku terdapat tempat berkumpulnya para remaja yang berpenampilan hampir dapat dikatakan satu tipe. Aku lewat di situ dengan cueknya, dan teringat apa yang pernah dikatakan oleh beberapa temanku ketika melewati tempat ini. Mereka memberi sebuah lebel atau sebutan tersendiri untuk beberapa orang yang berpenampilan seperti itu.Alay.Ada apa dengan alay? Apa yang salah dengan mereka? Apakah mereka merugikan kita? Sebelum itu perlu diketahui tempat dimana kita menemukan alay –untuk beberapa orang menyebutnya demikian- adalah tempat yang relatif terjangkau, tentunya dari segi finansial, dan remaja yang bisa di bilang pada tingkat smp.
Ada apa dengan alay? Apakah itu sebuah pendiskriminasian model baru? Kalau memang penyebutan itu di dasarkan karena sebuah alasan mereka menganggu kita, itu tidak masalah, tetapi, kalau penyebutan itu didasarkan karena penampilan dan perilaku mereka, itu baru patut dipikirkan kembali. Ada apa dengan mereka? Atau ada apa dengan mereka yang menyebut alay? Mereka sama-sama manusia seperti kita. Dimana mereka bebas melakukan apa saja yang mereka inginkan, mereka bebas mengekspresikan diri mereka dan tentunya mereka juga bebas memilih kemana arah “bergaya” mereka. Adakah hak kita untuk mengatur mereka untuk disejajarkan dengan kita? Kembali seperti yang telah di kemukakan sebelumnya, mereka juga manusia yang mempunyai kebebasan dalam bertindak dan berpikir.
Terlepas dari itu semua, memang orang bebas mengemukakan pendapat mereka masing-masing. Mereka bebas memberi cap alay, atau apapun sesuka mereka –tentunya yang memberi cap alay- tetapi perlu diingat, jangan sampai kita menjatuhkan mereka dengan arti mendiskriminasikan mereka yang berbeda dari kita. Kita bisa bersama-sama. Karena kita manusia bebas. Dan manusia yang bebas adalah manusia yang merdeka.
Dwi Nur Arry Andhika Muchtar

0 comments
Post a Comment