Melewati jalan sudirman di malam hari, mungkin aku bisa menyebutnya mendekati tengah malam. Di saat semua mobil-mobil yang biasa menghiasi dan melintasi aspal jalan protokol ini beristirahat di rumahnya masing-masing. Hanya beberapa yang melewati jalan protokol ini. Seketika aku berpikir, “hendak kemana orang-orang itu? hari sudah terlanjur larut, mungkinkah ada diantara mereka yang sedang terkena musibah? Mungkinkah ada di antara mereka yang hendak mengejar rezeki? Mungkinkah diantara mereka yang benar-benar baru pulang dari urusan bisnis?” aku seringkali berpikiran seperti itu. Aku kemudian memarkirkan vespaku di trotoar gedung pertama sebelah kiri dari arah bundaran H.I. Kemudian ingin menemani temanku untuk mengambil foto sudirman di malam hari. Maaf, bisa disebutkan tengah malam. Dan kemudian aku dan dua temanku berjalan menuju ke arah jembatan sudirman di mana kami pasti melewati stasiun kereta sudirman, aku lupa nama pastinya, yang jelas, letaknya di bawah jembatan jalan sudirman. Berjalan di pinggir jalan, seperti yang telah tadi telah di bicarakan, kami melewati stasiun sudirman. Berjalan di tengah-tengah malam yang semakin larut. Berjalan terus sembari menanti tempat yang tepat untuk mengambil foto. Kemudian tak lama kami berjalan, entah darimana terdengar suara lantunan musik. Seingatku, lantunan yang masuk ke dalam telingaku waktu itu adalah lantunan lagu dangdut. Kami saling melihat satu sama lain. Dengan isi hati yang sama, “dari mana asalnya?” mengerutkan dahi kemudian dan memasang telinga lebar-lebar. Kami semakin berjalan kedepan dan suara musik itu juga semakin jelas. Hantu? Tidak saat itu kami tidak berpikiran seperti itu. Walaupun memang ada peluang makhluk itu menggoda kami. Semakin kami berjalan maju, lantunan musik itu juga semakin jelas,semakin maju, semakin jelas. Akhirnya setelah kami berjalan dan terus berjalan, suara itu mulai menghilang. Kami penasaran bukan main, dan kami mulai memutarbalikkan badan kami ,dan mulai mencari asal suara itu lagi. Seperti tadi, semakin kami berjalan semakin jelas suara itu, dan akhirnya ketika kami merasa suara itu sangat keras kami berhenti. Dan kemudian mencari-cari dimana asal suara itu. Aku baru ingat, kami berada di jembatan, dan asal suara itu berasal dari bawah jembatan. Aku spontan menengok kebawah, dan benar saja terdapat beberapa orang yang sedang asik mengobrol, dan entah ada sebuah band yang memainkan alat musik atau sekedar menyetel lagu keras-keras, yang pasti di bawah sana ada orang yang sedang asik menikmati musik.
Wow, sebuah panggung malam, menarik sungguh sangat menarik. Panggung malam sederhana di tengah-tengah kawasan elite jakarta. Panggung malam kolong jembatan, perpaduan antara musik dan tawa yang menjadi satu. Menjadi sebuah instrumen penting dalam melepas kepenatan. Dimana lagi ada panggung malam di tengah-tengah kawasan elite jakarta yang tampil seadanya saja?. Sebuah pesta untuk para wong cilik. Sebuah pesta yang tidak memandang kelas dan kedudukan seseorang. Tampil apa adanya. Panggung malam. Sungguh besar niatanku untuk kembali kesana dan turut menikmati panggung malam itu. Aku pasti kembali dan berbaur bersama orang-orang yang masih dapat tertawa lepas seolah tidak ada beban di dalam hidupnya walaupun dalam kenyataanya hidup mereka keras. Aku pasti kembali di tengah panggung malam ini. Panggung malam jakarta.
Dwi Nur Arry Andhika Muchtar

0 comments
Post a Comment